- See more at: http://blog-rangga.blogspot.com/2013/01/cara-mengganti-icon-kursor-blog-dengan.html#sthash.mJMLjSMB.dpuf
0

Sungha Jung

Posted by Fikri Ramadhan on 21.59

SUNGHA JUNG



       
              Sungha Jung lahir pada tanggal 2 september, 1996
di Cheongju, Korea Selatan.
Sungha Jung merupakan gitaris akustik yang sekarang mendunia. Sungha mulai bisa bermain gitar sekitar usia 4 tahun. Sungha Jung membeli gitar dengan uangnya sendiri untuk pertama kalinya dengan harga $60. Kemudian Ayahnya kagum dengan keahlian sang anak, Lalu ayahnya membelikannya gitar Cort Earth 900 seharga $195 . Sungha Jung kini sangat terkenal melalui youtube dan berbagai situs             
           Pada Desember 2012,   channel-nya memiliki  lebih dari 17 juta tampilanlebih dari 1.160.000 pelanggan,dan 605 juta penayangan video. 
            Biasanya Sungha Jung belajar dan berlatih gitar dengan waktu 3 hari. Kemudian di rekam dan diupload di youtube. Sungha memainkan gitar diberbagai genre.
            Menjadi Gitaris Fingerstyle Akustik profesional adalah cita-citanya sejak kecil. Semuanya berawal dari melihat ayahnya yang sering bermain gitar, kemudian Sungha belajar untuk memainkannya.Sungha telah memenangkan 15 penghargaan di YouTubetermasuk 6 "1penghargaan.Video Sungha yang paling membuatnya dikenal bermain gitar adalah tema dari "Pirates Of The Caribbean".

Pada 2010ia adalah fitur pada album solo Narsha ini "Narsha" untuk lagu "in Love",dan pada 2011ia tampil di AS dengan Trace Bundyserta tur di Skandinavia dan Jepang.
Sungha bertindak sebagai Ahn Hyeok dalam film 2.011 KoreaThe Suicide Forecast


LakeWood merupakan gitar yang kini
digunakan Sungha Jung. Gitar ini merupakan gitar yang diproduksi oleh produsen gitar akustik jerman yang sekaligus mensponsori Sungha sejak Januari 2009. Sungha tidak bisa hidup tanpa Ipodnya dan ia sangat mengagumi Big Bang G-Dragon




ALBUM

Perfect Blue
(2010)



1

4:43
2

3:39
3

3:54
4

2:39
5

3:47
6

3:22
7

4:32
8

3:14
9

3:16
10

3:33
11

3:24
12

5:01
13

3:34
14

4:04

Irony(2011)


1

5:35
2

5:02
3

3:13
4

3:50
5

4:52
6

4:24
7

4:05
8

5:43
9

4:46
10

3:25
11

4:17
12

3:59
13

3:34
14

3:30


The Duets(2012)



1

5:26
2

3:05
3

2:59
4

3:14
5

4:33
6

4:43
7

5:21
8

3:27
9

5:02


Paint Of Acoustic(2013)


1

4:54
2

4:35
3

4:52
4

4:32
5

4:27
6

4:17
7

4:55
8

4:44
9

5:03
10

4:13
11

3:35
12

4:19
13

3:32
14

3:59

Monologue
(2014)


1

3:10
2

4:39
3

3:50
4

4:49
5

4:31
6

5:07
7

3:05
8

5:17
9

4:59
10

3:51
11

3:43
12

5:30

Two Of Me
(2015)





1

Misteri Porsi Nasi Padang

Posted by Fikri Ramadhan on 01.40
Cerita di balik porsi nasi padang, makan di tempat & dibungkus

                                                       Misteri Porsi Nasi Padang

Merdeka.com - 
Berbicara mengenai rumah makan padang, biasanya yang di ingat menunya yang memicu kolestrol naik namun juga memicu selera makan. Tak diragukan lagi, rumah makan padang menjadi salah satu favorit yang dikunjungi untuk memenuhi hasrat perut. Salah satu lauknya, rendang pun dinobatkan sebagai makanan favorite dunia. Nikmatnyo.

Tapi, lupakan persoalan itu dulu. Pernahkah bertanya dan memperhatikan porsi nasi putih yang diberikan rumah makan padang berbeda saat makan di tempat dengan dibungkus. Porsi nasi Padang yang dibungkus jauh lebih banyak daripada makan di tempat. 

Saat mendaratkan kaki di rumah makan atau restoran padang dan memutuskan untuk makan di sana tanpa membawa pulang, biasanya disuguhi setangkup nasi putih yang ditaburi lauk yang dipilih. Biasanya, porsi nasinya sedikit, hanya satu centong batok berukuran kecil. Barangkali, ucapan 'Tambuah ciek,' sering diteriakan kepada pelayan yang nantinya pelayan akan memberikan satu porsi kecil nasi di atas piring kecil disiram kuah gulai.

Namun, saat memutuskan untuk membeli nasi padang 'take away' atau dibungkus, biasanya porsi nasinya dua centong batok atau lebih. Ini jauh lebih banyak dari pada makan di tempat.

Pernahkah bertanya mengenai masalah ini? 

Menurut Adrival (18), mahasiswa Universitas Andalas, yang diketahuinya dari cerita salah satu pemilik rumah makan di kota Padang, persoalan ini memiliki sejarah sendiri. Dulu, saat zaman Belanda yang dapat menikmati masakan padang di rumah makan padang adalah orang-orang elite. Seperti Saudagar kaya dan kolonial Belanda. Mereka itu biasanya yang meramaikan rumah makan padang dahulunya. 

Namun, pemilik rumah makan padang ingin orang-orang pribumi dapat menikmati juga masakan daerahnya sendiri. Maka, diakalilah dengan cara di bungkus. Orang-orang pribumi dapat menikmati masakan daerah sendiri dengan cara tidak makan di tempat. Porsi nasinya pun dibanyakin agar orang pribumi bisa berbagi dengan lainnya.

"Jadi membeli satu bungkus nasi bisa dimakan untuk dua orang," cerita Adrival saat dihubungimerdeka.com, Rabu (7/5).

Adrival pun menambahkan, kalau dulunya rumah makan padang juga dikenal dengan rumah makan Ampera. Nama Ampera sendiri berasal dari Amanat Penderitaan Rakyat.

"Makanya kalau di sini (Padang), rumah makan yang disebut Ampera jauh lebih murah dari rumah makan biasa," lanjutnya.

Namun menurut sastrawan asal Padang, Yusrizal ini persoalan biaya pelayanan. Jika makan di tempat, orang-orang mendapat pelayanan lebih dari pada yang dibawa pulang atau di bungkus. Dia menyebutkan, di kota Padang membeli makanan apapun kalau di bawa pulang memang jauh lebih banyak porsinya dibanding makan di tempat.

"Contohnya kalau beli soto, nasi dan kuah soto lebih banyak kalau di bawa pulang." ujarnya kepada merdeka.com

Lain lagi pendapat Eka, warga asal Pariaman menyebutkan bahwa persoalan porsi ini terkait biaya sabun cuci dan upah mencuci piring. "Makanya, makan di tempat porsinya lebih sedikit," tambah Eka.

Sementara pemilik salah satu rumah makan padang kawasan Kedoya, Dedi (36) mengatakan, bahwa persoalan porsi ini sudah turun menurun dan sekedar budaya. Dirinya hanya mengikuti saja. 

"Wah ndak tahu, banyak yang kayak gituh. Abang cuma ngikuti saja," ujar Dedi.

Sedangkan menurut Doni, pemilik rumah makan di kawasan Pesakih Kalideres, persoalan porsi yang berbeda ini hanya karena faktor kemudahan. Bila makan di tempat, kurang bisa 'tambuah ciek' (tambah satu). Sedangkan kalau dibungkus tidak bisa lagi minta tambah sehingga seringkali nasinya diperbanyak.

Terlepas dari pertanyaan ini, sebenarnya tidak semua rumah makan padang yang membedakan porsi nasi yang makan di tempat atau nasi yang dibungkus. Pandai-pandai andalah mencari rumah makan padang yang tidak membedakan porsi nasi yang dibungkus atau makan di tempat.

Sumber: Merdeka.com

Copyright © 2009 MORE INFO, MORE KNOWLEDGE All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.